Pencarian
Generative AI

Artikel 5: Membedah Lebih Jauh: Etika Penggunaan ChatGPT dalam Penulisan Skripsi di Perguruan Tinggi Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir saya mengajar di beberapa perguruan tinggi berbeda, satu pola konsisten selalu muncul pada akhir-akhir ini adalah: semakin banyak mahasiswa menggunakan ChatGPT—baik secara terbuka, maupun diam-diam.

Prompter JejakAI
Selasa, 5 Agustus 2025
Oleh: Dimasti Dano
JejakAI
Leonardo AI

Di sisi lain, tak sedikit dosen yang masih skeptis, menolak, atau belum memahami sepenuhnya apa itu ChatGPT dan bagaimana dampaknya terhadap proses penulisan ilmiah. 

Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih dalam dari sekadar boleh atau tidak: Bagaimana seharusnya dunia akademik Indonesia menyikapi penggunaan AI generatif seperti ChatGPT dalam penulisan skripsi tanpa mengorbankan etika, integritas, dan kualitas ilmiah? Berikut  adalah pembahasannya:

Baca juga: Panduan Cerdas untuk Mahasiswa Indonesia: Gunakan AI (ChatGPT) dengan Etika Melalui Metode AI GUIDE

Mengapa Mahasiswa Tertarik Menggunakan ChatGPT?

Dalam diskusi-diskusi kelas, saya menemukan beberapa alasan umum mengapa ChatGPT menjadi “asisten virtual” favorit mahasiswa:

1.     Kemudahan akses – ChatGPT mampu menjawab pertanyaan kompleks dalam hitungan detik, bahkan dengan prompt yang  tepat mampu melakukan analisa statistik sederhana.

2. Kurangnya literasi riset – Banyak mahasiswa belum terbiasa merumuskan masalah, mencari jurnal, atau menyusun kerangka logis.

3. Tekanan waktu – Sebagian besar mahasiswa bekerja sambil kuliah, dan butuh alat bantu cepat.

4. Bimbingan yang kurang intensif – Relasi bimbingan yang terlalu formal sering kali minim dialog dan feedback yang membangun.

Baca juga: Sikap Universitas Top Dunia terhadap Penggunaan AI oleh Mahasiswa

Namun, tanpa pemahaman etis, penggunaan ini bisa menimbulkan risiko serius:

1.     Plagiarisme yang tidak disengaja

2. Ketergantungan pada mesin tanpa berpikir kritis

3. Pemahaman dangkal terhadap topik yang diteliti

Mengapa Sebagian Dosen Menolak ChatGPT?

Beberapa alasan mengapa dosen merasa kehadiran AI seperti ChatGPT dirasakan menjadi ancaman bagi:

1.     Keaslian dan otentisitas karya ilmiah

2. Fungsi dosen sebagai pembimbing dan penilai utama

3. Nilai proses “berpikir dan menulis” sebagai bagian dari pembentukan intelektual

Tetapi pada hakikatnya bila ditelusuri lebih dalam, penolakan ini berakar pada dua hal, yaitu: minimnya literasi teknologi dan belum adanya pedoman pedagogi digital. Padahal jika dipahami secara benar, AI bisa menjadi alat bantu yang memperkuat (bukan melemahkan), proses belajar-mengajar.

Baca juga: Menulis Skripsi di Era ChatGPT: Peluang Baru atau Ancaman Akademik?

ChatGPT Bukan Alat Curang, Tapi Alat Bantu

Penggunaan ChatGPT bukanlah pelanggaran etika—selama digunakan secara bijak. Analogi sederhananya: ChatGPT bukanlah joki, tapi kalkulator, fungsinya mempercepat pekerjaan teknis, bukan menggantikan proses olah pikir.

Contoh penggunaan yang etis:

1.     Menyusun kerangka tulisan awal

2. Menerjemahkan atau merangkum literatur asing

3. Menjelaskan teori ekonomi, statistik, atau metodologi penelitian

4. Meningkatkan struktur kalimat dan tata bahasa

Contoh penggunaan yang tidak etis:

1.     Menyalin mentah-mentah jawaban dari ChatGPT

2. Menggunakan referensi fiktif hasil hallucination AI

3. Menyerahkan seluruh penulisan isi skripsi oleh AI

Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Dosen?

Alih-alih melarang, fungsi dosen dan pengelola akademik diharapkan menjadi navigator etika digital. Berikut berapa langkah yang dapat dilakukan:

1.     Sosialisasi sejak awal semester. Edukasi etika penggunaan AI di kelas, termasuk batas-batasnya.

2. Buat panduan tertulis. Sertakan pedoman penggunaan ChatGPT dalam silabus atau kontrak belajar.

3. Integrasikan ChatGPT dalam perkuliahan. Misalnya, gunakan untuk eksplorasi topik, latihan kritik argumen, atau menyusun outline.

4. Latih evaluasi manual berbasis proses. Fokus pada bagaimana mahasiswa berpikir dan membangun argumen, bukan hanya hasil akhirnya.

Etika dan AI, Bukan Soal Hitam-Putih

Etika akademik dirasakan bukanlah selalu soal benar-salah, melainkan soal niat, konteks, dan tanggung jawab. AI (ChatGPT) bukan musuh yang harus dihindari, tetapi hanyalah sekedar alat. Ini berarti ditangan yang tepat,  bisa menjadi sahabat dalam proses belajar dan berkarya.

Sudah saatnya kita berhenti menghindari teknologi, dan mulai mendidik cara menggunakannya dengan etis. Dengan bimbingan yang tepat, AI seperti ChatGPT bisa menjadi pendorong literasi, kreativitas, dan daya saing pendidikan tinggi Indonesia.


Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard